Probolinggo
Penerangan Jalan di Kota Probolinggo Dipadamkan Selama PPKM Darurat

Memontum Probolinggo – Pemerintah Kota Probolinggo mulai mematikan seluruh penerangan jalan umum (PJU) di jalan-jalan protokol dalam kota dan juga wilayah kecamatan demi mengoptimalkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.
“Terhitung mulai pukul 20.00 hingga pukul 22.00 WIB lampu PJU di Kota Probolinggo dimatikan,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kota Probolinggo, Agus Efendi.
Baca Juga:
- Wali Kota Probolinggo Dorong Penerapan Dashboard Monitoring di RSUD dr Mohammad Saleh
- Jaga Ekosistem Perairan, Wali Kota Probolinggo 4 Tebar Bibit Ikan di Ranu Sentong
- Deteksi Dini PTM, Pemkot Probolinggo Gelar Cek Kesehatan Gratis Bagi Seluruh ASN
Pemadaman PJU juga dibarengi dengan kegiatan patroli gabungan oleh Satpol PP bersama unsur TNI Polri seperti di seputaran Gladak Serang, Jalan Cokroaminoto bahkan hingga Wilayah Kecamatan Wonoasih.
Seluruh toko modern, pertokoan, pujasera, hingga kafe dan warung-warung jalanan diminta tutup. Jika pun masih ada yang berdagang, pembeli makanan tidak boleh makan di tempat alias harus dibawa pulang. Namun harus tutup sesuai waktu yang telah ditentukan hingga pukul 20.00.
Kondisi ini membuat jalanan di jalan-jalan protokol sepi dari kendaraan. Warga lebih banyak beraktivitas di rumah-masing masing.
“Selain alasan keamanan, waktu dua jam ini kami rasa efektif untuk mengurangi mobilitas dan pergerakan masyarakat,” terang Agus. Selasa (13/07).
Namun sebenarnya pemadaman lampu PJU dilakukan tidak di semua ruas jalan.
Ada beberapa jalan protokol yang digelapkan, seperti Jalan Sukarno Hatta, Jalan Panglima Sudirman, Jalan dr Sutomo, Bundaran Gladak Serang, Alun-Alun, Jalan Suroyo, Jalan dr Moh Saleh, Jalan Pahlawan, Mastrip hingga batas SMKN 1, HOS Cokroaminoto dan beberapa titik lainnya.
Saat ini angka kasus Covid-19 di Kota Probolinggo tercatat 2.178 orang di antaranya sembuh, sedangkan 272 orang masih dirawat dan 185 orang meninggal.
Rata-rata kasus harian ini menunjukkan tren cukup meningkat, dari sebelumnya berkisar antara 3 – 5 kasus menjadi 10-30 orang per hari. Selain masalah ketidakpatuhan terhadap protokol kesehatan, masih tingginya mobilitas warga disinyalir sebagai penyebab terus meningkatnya kasus harian di Kota Probolinggo. (geo/ed2)
















