Kota Malang
Percepat Penurunan Stunting, Dispangtan Kota Malang Dorong Urban Farming Terintegrasi

Memontum Kota Malang – Upaya penurunan angka stunting di Kota Malang tidak hanya bertumpu pada satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Namun, dari berbagai OPD yang ada, salah satunya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispangtan).
Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan, menyampaikan bahwa Dispangtan memiliki peran penting melalui penguatan ketahanan pangan keluarga berbasis urban farming. Strategi tersebut, menurutnya sejalan dengan arahan Wali Kota dan Wakil Wali Kota untuk menjalankan program crosscutting lintas dinas.
“Fokus utamanya adalah menghadirkan sumber pangan bergizi di tingkat rumah tangga hingga lingkungan RT/RW. Program kami mengarah pada pembangunan pertanian kota atau urban farming yang terintegrasi, antara budidaya tanaman, budidaya ikan dan peternakan skala perkotaan. Dari situ kita bisa mendapatkan sumber protein dan sayur mayur untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga,” jelas Slamet, Kamis (11/12/2025) tadi.
Menurut Slamet, intervensi diarahkan berdasarkan SK Wali Kota terkait daftar keluarga prioritas dan super prioritas penanganan stunting. Dalam SK tersebut tercatat alamat, nama, hingga kebutuhan spesifik setiap keluarga.
“Dengan SK itu, kami bisa tahu wilayah mana yang menjadi prioritas dan apa saja kebutuhannya. Sehingga intervensi bisa kami sesuaikan,” ujarnya.
Baca juga :
Saat ini, urban farming di Kota Malang berkembang pesat. Dispangtan mencatat ada 115 kelompok urban farming dan jumlahnya terus bertambah seiring dinamika kota.
“Insyaallah untuk kelompok budidaya ikan nila dan lele sudah ada di seluruh 57 kelurahan. Data pastinya saya tidak hafal, tapi setiap tahun selalu ada tambahan kelompok baru,” tambahnya.
Intervensi perikanan diprioritaskan pada ikan nila dan lele, karena kandungan gizinya dinilai tepat untuk mendukung pemenuhan protein keluarga berisiko stunting. Sementara, skala peternakan perkotaan diarahkan pada produksi telur sebagai sumber protein hewani.
Lebih lanjut, menurutnya Dispangtan Kota Malang juga rutin memberikan pelatihan, pendampingan dan monitoring kepada seluruh kelompok. Selain itu, mereka memfasilitasi kelompok dengan berbagai pihak, seperti CSR dan pelaku perhotelan.
“Sekarang juga ada Ngalam Farmer Market, tempat berkumpulnya petani, peternak milenial dan pembudidaya ikan. Hasil urban farming bisa dihimpun dan dipasarkan di sana. Termasuk kemungkinan kerja sama dengan hotel melalui PHRI,” lanjutnya.
Meski perkembangan urban farming cukup pesat, tantangan terbesar justru terletak pada kekonsistenan pengelola. “Kendalanya itu keberlanjutan. Hasil budidaya itu bisa dikonsumsi dan bisa dijual, tapi kelompoknya harus aktif. Itu yang terus kami dorong,” imbuh Slamet. (rsy/sit)











