Kota Malang

Cegah Stunting Sejak Dini, Dinkes Kota Malang Perkuat New Zero Stunting 2026

Diterbitkan

-

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Muhammad Zamroni. (memontum.com/rsy)

Memontum Kota Malang – Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang optimis mampu menekan angka stunting secara signifikan melalui strategi New Zero Stunting pada tahun 2026. Melalui pendekatan intervensi yang lebih terfokus dan menyentuh langsung sasaran, penurunan stunting ditargetkan bisa mencapai 50 persen dalam tahun ini.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Malang, Muhammad Zamroni, menyampaikan bahwa konsep New Zero Stunting menitikberatkan pada pencegahan sejak dini agar tidak terjadi penambahan kasus stunting baru, khususnya pada kelompok rentan. “Zero stunting itu artinya mengurangi bahkan menghilangkan stunting pada anak, terutama balita, melalui pencegahan sejak awal. Supaya tidak ada penambahan angka stunting baru,” ujar Zamroni, Selasa (10/02/2026) tadi.

Strategi tersebut dilakukan melalui pendampingan berkelanjutan dan intervensi langsung kepada kelompok sasaran, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita. Dengan penanganan difokuskan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai periode krusial tumbuh kembang anak.

“Melalui nutrisi optimal seperti pemberian ASI eksklusif, makanan pendamping ASI yang kaya protein hewani, perilaku hidup bersih dan sehat, serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin di posyandu dan puskesmas, hingga pemenuhan imunisasi. New Zero Stunting ini lebih fokus pada intervensi yang benar-benar menyentuh langsung, agar balita yang sudah ditangani tidak kembali mengalami stunting,” tuturnya.

Advertisement

Baca juga :

Program New Zero Stunting mulai digulirkan sejak awal 2026 dan melibatkan kolaborasi lintas perangkat daerah serta lintas program. Menurutnya, dalam penanganan stunting tidak bisa dilakukan oleh sektor kesehatan saja, melainkan membutuhkan peran aktif seluruh elemen, termasuk masyarakat.

“Penanganan stunting ini harus kolaboratif. Ada intervensi spesifik dan sensitif, mulai dari peningkatan akses gizi, edukasi dan kampanye, penguatan layanan kesehatan, perbaikan sanitasi, hingga perlindungan identitas anak dan edukasi pencegahan pernikahan dini,” jelasnya.

Berdasarkan data laporan bulan timbang elektronik (e-PPGBM), prevalensi stunting di Kota Malang pada 2025 berada di angka 8,48 persen, masih di bawah target nasional sebesar 14 persen. Meski tantangan ke depan semakin kompleks, Zamroni menyebut tingkat optimisme Pemkot Malang cukup tinggi.

“Kami optimistis. Target kami jelas, stunting bisa ditekan signifikan di 2026. Paling tidak berada di bawah 14 persen sesuai target pemerintah pusat,” imbuhnya. (rsy/sit)

Advertisement
Advertisement
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker

Refresh Page
Lewat ke baris perkakas