Kota Malang
Upaya UMM Jaga Sumber Mata Air Terakhir di Desa Kucur Dau

Memontum Kota Malang – Air merupakan salah satu kebutuhan dasar yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dengan jumlah populasi manusia yang meningkat, kebutuhan akan air juga terus bertambah pula. Tentunya diperlukan upaya pelestarian kawasan sumber mata air untuk memastikan ketersediaan air di masa depan.
Menyadari hal itu, sekaligus bentuk pengaplikasian ilmu pengetahuan bagi masyarakat sekitar, Program Studi Kehutanan Fakultas Ilmu Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut serta dalam melestarikan kawasan sumber mata air yakni melalui penanaman bambu di sekitar sumber mata air Desa Kucur, Dau, kabupaten Malang, sebagai mata air terakhir di daerah tersebut.

Civitas akademik Prodi Kehutanan UMM di Desa Kucur
Tanaman bambu dianggap mampu menyimpan air dalam jumlah besar, meski di musim kemarau. Sehingga, tanaman bambu diharapkan mampu menjaga ketersediaan dan debit air di sumber mata air Desa Kucur. Kegiatan ini merupakan wujud nyata kontribusi Prodi Kehutanan UMM untuk pelestarian lingkungan.
“Bisa dibilang air dibutuhkan hampir semua aktivitas manusia. Saat ini, banyak daerah yang beralih fungsi jadi pemukiman. Bambu bisa menyimpan air banyak, sehingga kami berharap dengan semakin banyaknya bambu di sekitar mata air, ketersediaan air dapat terjaga, bahkan meningkatkan debitnya,” jelas Agus Firmansyah, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kehutanan UMM.
Sementara itu, Kepala Program Studi Kehutanan, Tatag Muttaqin, S. Hut, M.Sc, menyampaikan, kegiatan ini merupakan bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terkait pengabdian dan penelitian. “Bersama masyarakat setempat, kami dosen dan mahasiswa bergotong royong untuk menjaga lingkungan khususnya disekitar kawasan mata air Desa Kucur,” tegasnya.
Kedepannya, kegiatan serupa diagendakan akan terus dilakukan. Selain memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat, mahasiswa juga bisa merasakan bagaimana praktek langsung di lapangan. “Dibandingkan sekedar teori, pengalaman di lapangan akan lebih bisa dirasakan oleh mahasiswa, karena pada akhirnya semua ilmu tersebut akan dipraktekkan di kehidupan,” tukas Tatag. (rhd/yan)
















