Kota Malang

JKPKA Edukasi Bioassessment 40 Sekolah Jatim, Pentingnya Kualitas Air DAS Brantas dan Bengawan Solo

Diterbitkan

-

JKPKA Edukasi Bioassessment 40 Sekolah Jatim, Pentingnya Kualitas Air DAS Brantas dan Bengawan Solo

Memontum Kota Malang – Saat ini, seiring berkembangnya industri memberikan dampak tercemarnya lingkungan, salah satunya sungai. Menyadari penurunan kualitas air sungai, sekitar 40 siswa dan 40 guru perwakilan dari 40 SMA di Jawa Timur mengikuti pelatihan dan praktek Bioassessment bagi anggota JKPKA (Jaring-jaring Komunikasi Pemantauan Kualitas Air) yang difasilitasi oleh Perum Jasa Tirta I (PJT I), di sekitar sungai Konto, Desa Selorejo, Kabupaten Malang Sabtu (27/10/2018).

Bioassessment merupakan teknik memantau kualitas air melalui biota dan serangga sungai sebagai indikator. Kegiatan paparan materi dan praktek Bioassessment ini diikuti guru dan siswa dari sekolah yang berada di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas dan DAS Bengawan Solo, yang berasal dari SMA di Malang, Blitar, Tulungagung, Jombang, Surabaya, Sidoarjo, dan Madiun.

Beramai-ramai melakukan observasi di sungai Konto. (rhd)

Beramai-ramai melakukan observasi di sungai Konto. (rhd)

“Kegiatan ini melibatkan guru dari semua mapel, dan perwakilan siswa untuk menentukan kualitas air melalui Bioassessment sederhana dengan penemuan jenis-jenis hewan di sekitar sungai. Jika banyak ditemukan beragam biota atau hewan makro invertebrata, seperti anggang-anggang, capung, yuyu kangkang, planaria (cacing pipih), dan lainnya, maka kualitas air bisa dikatakan baik dan layak sebagai bahan baku air minum,” jelas Drs Sutarno Said MSi, Koordinator Pusat JKPKA.

Sutarno berharap, setelah mengikuti Bioassessment, para siswa mengalami peningkatan dan lebih peduli terhadap pelestarian dan kualitas sumber daya air. Dengan laporan pemantauan yang telah dibuat, selain dapat digunakan sebagai bahan referensi dan perbandingan, juga dapat digunakan dalam lomba dan temu ilmiah pada November nanti.

Siswa menuliskan data temuan biota dalam modul. (rhd)

Siswa menuliskan data temuan biota dalam modul. (rhd)

“Masing-masing makro invertebrata tersebut memiliki tiap skor yang dapat dijadikan acuan dalam Indeks Kualitas Air. Invertebrata ini sangat rentan dan intoleran terhadap limbah. Ada 3 variabel Bioassessment sederhana, yakni makro invertebrata, kandungan COD (polutan), dan kejernihan air, sebagaimana temuan Prof Akira Kikuchi dengan Jasa Tirta,” jelas Drs Budi Santoso MPd, guru SMAN 21, sekaligus Pembina JKPKA Jatim ini.

Ketua MGMP Biologi Surabaya ini mengatakan, target utamanya memberikan pemahaman pelestarian sumber daya air kepada siswa. Sebab, dengan pemahaman siswa dapat mengedukasi keluarga dan lingkungan sekitar. “Nantinya ada 3 target, diantaranya adanya sekolah sungai sebagai media pembelajaran dan laboratorium di bantaran sungai; Dinas Pendidikan Jatim mengakomodasi usulan sekolah sungai dengan modul kurikulum manual dan digital yang telah dipersiapkan oleh JKPKA; Dan munculnya sadar lingkungan dalam diri masyarakat,” ungkap salah satu dosen UWK Surabaya yang berhasil mengantarkan SMAN 21 meraih beberapa penghargaan internasional berkat perubahan kualitas sungai emas dari tercemar menjadi sedang.

Advertisement

Di usia ke-21 tahun, JKPKA telah memiliki anggota 200 sekolah, dimana kegiatan tiap tahun diadakan pemantauan air langsung (Bioassessment). Alasannya, anggota guru dan siswa selalu berubah, khususnya para siswa karena melanjutkan ke jenjang berikutnya. “Kegiatan ini selalu kami lakukan tiap tahun untuk mengedukasi generasi penerus selanjutnya. Jadi akan semakin banyak siswa dan guru yang memahami pentingnya kualitas sumber daya air ini,” jelas Inni Dian Rohani, Kadep Humas & Informasi Publik Perum Kasa Tirta I (PJT I). (rh/yan)

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker

Refresh Page
Lewat ke baris perkakas