Kota Malang

Geliat Caleg Perempuan, Rebut Kursi Parlemen

Diterbitkan

-

Geliat Caleg Perempuan, Rebut Kursi Parlemen

Merupakan perjuangan berat bagi calon legislatif perempuan untuk dapat menduduki kursi tersebut. Terutama dalam hal meyakinkan suara perempuan untuk memilih mereka ditengah doktrin patriarki yang masih menyelimuti pemikiran masyarakat di Indonesia. Anggapan “biar laki-laki saja yang di politik” ini menjadi tugas berat caleg perempuan dalam meraih suara. Selain itu tantangan caleg perempuan adalah bagaimana mereka dapat meyakinkan masyarakat luas untuk dapat memilih mereka dengan segala kemampuan yang mereka miliki, bagaimana mereka dapat menanamkan kepercayaan bahwa dengan keberadaan mereka di kursi legislatif tersebut dapat mewakili dan memperjuangkan suara-suara perempuan yang jumlahnya lebih dari 50 persen jumlah penduduk Indonesia ini untuk 5 tahun kedepan.

Masalah lain bagi caleg perempuan dalam berkompetisi di pemilu 2019 ini adalah bersaing dengan sesama caleg perempuan, dimana selama ini perempuan yang terpilih di parlemen memiliki latar belakang keluarga yang kuat secara finansial dan mengeluakan modal yang sangat besar untuk merebut kursi di parlemen. Disamping itu, perempuan yang terpilih rata-rata berasal dari keluarga pemegang posisi strategis di partai politik yang mengusung mereka, sehingga tidak sedikit kita lihat background mereka merupakan keluarga dekat dari elit politik di daerah pemilihan, atau bahkan merupakan kerabat dekat kepala daerah yang masih menjabat. Karir mereka di politik sangat instan demi memanfaatkan popularitas pemimpin yang sedang di posisi strategis di daerah demi mempertahankan dinasti politik yang sudah menjadi trend di beberapa wilayah Indonesia.

Hal ini dikuatkan dengan hasil penelitian Puskapol UI yang menyebutkan daftar terbuka dalam pemilu 2009 dan 2014 mampu membuat caleg baik laki dan perempuan dipilih oleh 70 % pemilih, berbanding 30 % yang memilih partai politik (bukan nama caleg). Artinya sistem daftar terbuka telah menghadirkan secara alamiah aspek pendidikan politik yang baik bagi pemilih maupun caleg dalam prosesnya, hal ini membuka potensi pencalonan perempuan yang berasal dari gerakan dan organisasi masyarakat sipil dapat berpeluang lebih besar untuk dicalonkan dan dipilih dengan suara terbanyak. Hanya saja masalah terbesarnya adalah pencalonan perempuan di partai politik masih sangat dominan dilandasi faktor kekerabatan.

Memang tidak bisa dipungkiri biaya politik saat ini sangat mahal, disamping persiapan logistik kampanye caleg, yang sangat besar peruntukannya adalah untuk mobilitas tim pemenangan atau tim kampanye para caleg. Namun tidak menutup kemungkinan bagi caleg perempuan yang berbiaya minim untuk memenangkan suara di parlemen. Dengan kerja keras dalam waktu yang sangat panjang. Dengan cara terjun langsung menyapa calon konstituen mereka, memberikan solusi atas aspirasi yang mereka sampaikan, memperjuangkan nasib kaum marginal, sehinga membentuk ketokohan mereka secara kuat. Membuat ruang fokus masyarakat pada saat musim pemilu hanya tertuju pada mereka yang telah berbuat banyak dalam memperjuangkan nasib dan hak-hak masyarakat diwilayahnya.
Harapan kedepan bagi perempuan-perempuan Indonesia yang terjun dalam bidang politik adalah mempersiapkan diri sejak dini, benar-benar memahami konsep kesetaraan, membangun basis suara dengan kegiatan-kegiatan sosial, budaya dan pendidikan.

Advertisement

Membangun figur dan karakter kuat sebagai calon wakil rakyat bukan dengan cara instan. Butuh proses dan pengabdian yang nyata agar saat menduduki kursi parlemen, caleg perempuan tersebut benar-benar bekerja dan berjuang menyuarakan nasib rakyat, bukan hanya sekedar menjadi “aksesoris pemanis” di parlemen.(*)

#caleg perempuan
#pemilu 2019
#politik perempuan

 

Penulis:
Marlina, S.P., M.Si.
Pemerhati Politik Perempuan
Sekretaris Islamic College Siti ‘Aisyah PD ‘Aisyiyah Kota Malang

Advertisement

Editor:
Januar Triwahyudi

 

Laman: 1 2

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker

Refresh Page
Lewat ke baris perkakas