Connect with us

SEKITAR KITA

Harga Cabai Rawit di Trenggalek Kian Melejit, Omzet Pedagang Turun

Diterbitkan

||

Harga Cabai Rawit di Trenggalek Kian Melejit, Omzet Pedagang Turun
NAIK: Harga cabai rawit di Pasar Basah Trenggalek, kian melejit. (memontum.com/mil)

Memontum Trenggalek – Sejak beberapa hari terakhir, harga cabai rawit di Trenggalek, kian melejit. Seperti yang terpantau di salah satu pasar tradisional di Trenggalek, harga cabai rawit merah kini tembus di harga Rp 90 ribu perkilogram.

“Kenaikan harga cabai rawit merah sampai di harga Rp 90 ribu perkilogram, ini terjadi sejak 4 hari terakhir. Tepatnya, sejak Jumat (03/06/2022) kemarin,” ucap salah satu pedagang cabai yang ada di Pasar Basah Trenggalek, Fitri, saat dikonfirmasi, Rabu (08/06/2022) sore.

Menurutnya, kenaikan harga cabai ini sangat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Selain kondisi pasar yang sepi, omzet pedagang pun juga menurun.

“Ya karena cabai mahal, masyarakat enggan membeli. Belum lagi pasarnya juga lumayan sepi,” imbuhnya.

Berdasarkan informasi yang dirinya terima, kenaikan harga cabai rawit ini dikarenakan pasokan dari petani cabai menurun. Sehingga membuat harganya semakin hari semakin naik.

“Sebelumnya, harga cabai di harga Rp 30 ribu. Lalu, mengalami kenaikan menjadi Rp 65 ribu sampai sekarang sudah Rp 90 ribu. Naiknya harga, ini juga berubah-ubah setiap hari,” kata ibu 2 anak ini.

Baca juga :

Diperkirakan, tambahnya, harga cabai ini akan terus naik. Mengingat pasokan dari petani cabai mulai berkurang. Belum lagi, saat ini sudah masuk musim penghujan. Kemungkinan tanaman cabai banyak yang busuk, sehingga para petani hanya mendapatkan hasil panen yang sedikit.

Sementara itu, salah satu petani cabai di Trenggalek, Nurhadi Rohmad, mengaku jika saat ini di Trenggalek cuacanya tidak bisa ditebak. “Karena cuaca di sini itu tidak bisa ditebak. Pagi panas, siang atau sore tiba-tiba hujan. Ini berdampak pada tanaman cabai yang akan dipanen,” terangnya.

Meski tanaman cabainya banyak yang mati atau rusak akibat hama atau penyakit, dirinya juga tidak bisa berbuat banyak. Pada dasarnya, upaya penyemprotan obat terhadap tanaman cabai sudah dilakukan. Akan tetapi, itu masih belum cukup.

“Ya, kita sudah melakukan cara penanaman hingga perawatan maksimal secara mandiri. Tanpa ada pembinaan ataupun pendampingan dari instansi terkait. Meski harga jualnya cukup menguntungkan, tetapi harus diingat banyak tanaman cabai yang mati,” tutur Nurhadi.

Dari awal panen, sambungnya, kondisi cabai masih bagus dengan hasil yang melimpah. Namun seiring berjalannya waktu, di panen berikutnya mulai muncul serangan hama. “Kondisi tanaman cabai yang terserang hama ini membuat buahnya menjadi kehitaman. Dan jika sudah ada 1 tanaman yang bergejala seperti ini, harus set dicabut agar tidak menular ke tanaman yang lain,” paparnya. (mil/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.