Kota Malang
Hepatitis Tak Masuk 5 Besar Penyakit Paling Tinggi di Kota Malang

Memontum Kota Malang – Untuk meningkatkan kesadaran global terhadap penyakit hepatitis B dan hepatitis C serta mendorong pencegahan, diagnosis, dan pengobatan, setiap tanggal 28 Juli diperingati sebagai Hari Hepatitis Sedunia. Di Kota Malang sendiri, hepatitis ternyata tidak menduduki peringkat 5 besar penyakit yang banyak diderita oleh warga.
“Sejauh ini masyarakat bisa mengetahui tanda-tandanya dulu. Apa saja gejalanya, itu disampaikan oleh para tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas di puskesmas,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, dr Husnul Muarif.
Naca Juga:
- Wakil Presiden Ke 6 Meninggal, Pemkot Malang Kibarkan Bendera Setengah Tiang
- 19 Pasar Takjil di Kota Malang Disampling, Dinkes Temukan 9,9 Persen Sampel Terkontaminasi Bakteri
- Antisipasi Potensi Pelanggaran Perusahaan, Disnaker PMPTSP Kota Malang Buka Posko Pengaduan THR
Setelah pasien mengkomunikasikan tanda-tanda klinisnya dan ditengarai terkena hepatitis, baru selanjutnya akan dirujuk ke Rumah Sakit (RS).
“Karena hepatitis banyak di RS. Kalau di puskesmas biasanya hanya ada tanda-tanda klinis baru nanti dikirim ke RS untuk memastikan,” imbuhnya.
Hal tersebut dijelaskan dr Husnul karena puskesmas belum memiliki laboratorium untuk pemeriksaan hepatitis.
“Di puskesmas tidak ada laboratorium untuk pemeriksaan. Karena bukan laboratorium sederhana tapi yang khusus untuk periksa hepatitis,” jelasnya.
Meski begitu, berdasarkan data yang ada di Dinkes Kota Malang, penyakit hepatitis bukan yang paling tinggi melanda warga. “Penyakit paling banyak di Kota Malang adalah Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), lalu hipertensi. Kemudian diabetes melitus, peringkat keempat ada gangguan otot dan jaringan, dan kelima adalah gangguan pembuluh darah dan jantung. Jadi hepatitis di bawah 5 besar,” pungkas pria yang pernah menjabat sebagai Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang itu. (mus/ed2)
















