Kota Malang

Jelang Pemilu, Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat Tinggi Namun Labil Sikap

Diterbitkan

-

Jelang Pemilu, Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat Tinggi Namun Labil Sikap

Sementara alasan tidak memilih, dikarenakan tokoh dan partai banyak melakukan korupsi; caleg datang hanya saat butuh dan tidak mengaspirasikan rakyat; partai dan tim sukses hanya menjual slogan SARA dan obral janji; ideologinya tidak sesuai Pancasila; tidak kenal, tidak tahu, dan tidak percaya caleg; dan lainnya.

“Terhadap politik uang, ada sebagian tidak mau menerima. Ada yang menganggap wajar sekitar 20 persen. Dan ada pula yang mengambil uangnya saja, namun tidak memberikan kepastian memilih caleg, karena mereka masih berpikir rasional,” jelas Yoga.

Sementara, prespektif pemilih terhadap kriteria Capres, diantaranya dipengaruhi jujur tidak korupsi 51 persen, perhatian pada rakyat 24 persen, mampu memimpin 12 persen, tegas 7 persen, berwibawa 3 persen, pintar 1 persen, dan tidak tahu 2 persen.

“Capres pintar, berwibawa, dan tegas itu nomor sekian. Masyarakat menilai jujur adalah hal utama. Elektabilitas Pilpres pada pasangan 01 sebesar 55,70 persen, pasangan 02 sebesar 35 persen, dan sisanya 9,3 persen tak memilih (undecided voters). Ini hasil hingga Februari. Sebab saat awal survei naik, namun kemudian menurun karena pemilih berpikir rasional. Kemudian partisipasinya naik kembali. Entah nanti hingga menjelang 17 April,” ungkap Yoga.

Advertisement

Meski animo keikutsertaan dalam Pemilu 2019 cukup tinggi, namun hasil ini tak menjamin keteguhan sikap pemilih untuk memberikan suara siapa yang bakal dipilih saat pencoblosan. Ada beberapa alasan voters untuk menentukan pilihan sikap, diantaranya tidak percaya dengan partai dan tokoh, tidak mengetahui informasi tentang tokoh dan partai, tidak ada partai dan tokoh yang layak dipilih, masih menunggu arahan dan saran.

“Misalnya, dalam Pilpres. Ada yang memilih 01, tapi berpendapat lebih tegas 02. Jadi belum bisa diprediksi secara pasti. Kalau kemungkinan ada perubahan, selisihnya tidak terlalu banyak berubah,” tandas Yoga.

Sementara itu, Komisioner KPU Kota Malang, Ashari Husen, yang juga turut hadir menyaksikan paparan survei, mengapresiasi kinerja Adiwangsa. Menurutnya, hasil tersebut sebagai alat ukur kesuksesan KPU terhadap tingkat partisipasi masyarakat dalam Pemilu 2019, sekaligus memberikan edukasi dan pemahaman hak dan kewajiban warga negara dalam Pemilu.

“Semacam publik trust dan bahan evaluasi kerja KPU. Hasil survei Malang Raya ini bisa sebagai keterwakilan atau tidak. Dan di wilayah kota Malang juga butuh data untuk tingkat partisipasinya,” ungkap Ashari. (adn/yan)

Advertisement

 

Laman: 1 2

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker

Refresh Page
Lewat ke baris perkakas