Surabaya
Reses, Reni Temukan Anak Putus Sekolah, Kawal Kelanjutan Pendidikan

“Jangan sampai putus sekolah dan tidak ada aktivitas positif (kerja), karena nanti ada bahaya narkoba kriminalitas dan lainnya. Oleh karena itu ibu-ibu harus punya semangat dengan diiringi doa dan ibadah untuk anak-anak kita,” jelasnya.
Berharap kepada orang tua yang harus kuat dan terus memotivasi anak, jangan sampai putus sekolah. Paling tidak minimal harus tuntas sampai SMA atau SMK, karena yang bisa melanjutkan dan merubah kondisi yang lebih baik untuk keluarganya adalah anak.
Dewi Masruro, warga setempat bisa menjadi contoh. Perempuan yang kini usianya 22 tahun saat itu memutuskan sekolahnya saat duduk dibangku kelas 3 SMA. Ini karena dia harus menikah. Tetapi kini Ruro bersemangat ingin melanjutkan sekolah dengan kejar paket C, bahkan sampai ke perguruan tinggi.
“Putus sekolah dulu karena menikah saat kelas 3, sekarang jualan ikan basah di rumah. Masih punya cita-cita sekolah, saya ingin memperbaiki masa depan dengan menyelesaikan sekolah, saya juga sangat semangat untuk menyelesaikan sekolag,” ucapnya.
Untuk masalah kesehatan, beberapa permasalahannya yang ditemui Reni yaitu terkendala oleh biaya. Juga ada yang tidak tahu cara mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dan ketidaktahuan akan informasi. Pemkot sendiri memiliki program mengenai jaminan kesehatan, serta memberikan fasilitas kepada warga yang kurang mampu.
“Jaminan kesehatan masyarakat itu anggarannya besar besar, hampir 180 miliar yang ditujukan untuk warga Surabaya, agar warga tidak sampai tidak bisa berobat karena masalah biaya,” tutupnya. (est/ano/yan)
















