Kota Malang

Tekan Penyebaran PMK, Peternak Sapi Kota Malang Minta Dinas Maksimalkan Vaksinasi

Diterbitkan

-

PETERNAK: Salah satu peternak sapi di Kampung Sanan Gang 17, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. (memontum.com/rsy)

Memontum Kota Malang – Munculnya kembali kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kota Malang, memicu kekhawatiran di kalangan peternak sapi. Karenanya, meskipun sebagian peternak memastikan bahwa hewan ternaknya aman dari penyakit tersebut, namun peternak berharap agar Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) segera melakukan vaksinasi guna mencegah penyebaran virus.

Hal ini, sebagaimana disampaikan seorang peternak di Kampung Sanan Gang 17, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Suwadji. Dirinya mengatakan, bahwa untuk saat ini hewan ternaknya masih terbebas dari PMK. Meski begitu, langkah antisipasi juga tetap harus dilakukan.

“Sapi saya ada enam ekor, ditambah satu milik tetangga yang dititipkan dan tiga milik mertua. Hingga sekarang, semuanya aman dari PMK. Meskipun, beberapa tetangga sudah ada yang melaporkan terkait kasus tersebut,” ujar Suwadji, Selasa (07/01/2025) tadi.

Untuk mencegah penularan PMK, Suwadji mengaku masih mengandalkan vaksinasi yang sebelumnya pernah diberikan dan pemberian vitamin serta perawatan intensif. Jika ada gejala awal seperti keluarnya lendir dari hidung, dirinyapun segera memanggil mantri hewan.

Advertisement

“Dispangtan Kota Malang sudah ke sini dan memberikan vitamin serta menyuntik sapi. Tapi di tahun 2025 ini, sementara belum ada vaksin lagi. Kalau dahulu di tahun 2024, itu vaksin langsung diberikan ke kandang,” katanya.

Baca juga :

Disamping itu, dirinya juga menggunakan cara tradisional seperti memberikan kunyit dan larutan garam asam untuk menjaga kesehatan ternak. Namun, Suwadji mengakui bahwa langkah tersebut tidak seefektif vaksinasi.

“Tapi kalau tidak sabar, ya segera memanggil mantri hewan. Tapi alhamdulillah, sampai dengan saat ini masih belum ada yang menunjukan gejala. Tapi sudah saya antisipasi,” tuturnya.

Suwadji juga mengingat, bagaimana pada tahun 2022 lalu, PMK menyebar dengan cepat di Kampung Sanan, menyerang sapi dari hidung, mulut, hingga kuku. Penyakit itu menyebabkan luka pada kuku sapi hingga lepas, membuat banyak peternak terpaksa menjual ternak mereka dengan harga murah.

Advertisement

“Saat itu saya rugi besar. Satu sapi gemuk yang biasanya laku Rp 14 juta, terpaksa dijual hanya Rp 3-4 juta karena sudah ada gejala PMK. Tapi daripada mati, lebih baik dijual,” tambahnya.

Suwadji berharap, agar ke depan Pemerintah Kota Malang melalui Dispangtan dapat segera mengadakan vaksin untuk mencegah lonjakan kasus. Sehingga, penyebaran virus dapat dikendalikan dengan lebih cepat dan tepat.

“Harapan kami, pemerintah segera menangani kasus ini. Kalau bisa, vaksinasi dapat terus diberikan pada hewan ternak, agar tidak mengalami kerugian besar seperti dulu,” imbuh Suwadji. (rsy/sit)

Advertisement

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker

Refresh Page
Lewat ke baris perkakas