SEKITAR KITA
Tiga Warga Ampelgading Meregang Nyawa Akibat Gempa 6,7 SR

Memontum Malang – Gempa berkekuatan 6,7 SR di Barat Daya Kabupaten Malang, tidak hanya merusak ratusan rumah warga. Hingga Sabtu (10/04) malam, korban meninggal di wilayah Kabupaten Malang, teridentifikasi sebanyak tiga orang.
Ketiga orang yang meregang nyawa akibat gempa tersebut, masing-masing Imam warga Desa Sidorenggo, Munadi warga Desa Wirotaman dan Misni warga Desa Tamansari. Ketiganya, merupakan warga Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.
Baca juga:
- Pemkot Malang Rencanakan Bangun Skywalk di Dua Lokasi dari Dana Bank Dunia
- Objek Wisata Banyuwangi 2026 Perkuat Seni dan Budaya Masyarakat
- Cara Unik UMKM Malang Kenalkan Gamis Bordir, Gandeng Petugas Kebersihan Jadi Model Ramadan
- Kecamatan Lumbang dan Potensi Produksi Madu yang Dihasilkan
- Antisipasi Pewarna Makanan Berlebih, Wali Kota Malang Siapkan Tes Sampel di Pasar Takjil
Camat Ampelgading, Achmad Sofie, saat dikonfirmasi mengatakan bahwa kesemua korban, meninggal akibat tertimpa matrial bangunan rumah. Kebetulan, dari korban yang meninggal, usianya di atas 60 tahun.
“Sebenarnya, korban yang meninggal tersebut tinggal bersama keluarganya. Namun, karena gempanya cukup besar, diduga keluarga langsung menyelamatkan diri. Sebaliknya, kondisi korban juga sakit dan tua,” kata Camat Ampelgading.
Terkait dengan musibah itu, pihaknya sudah melakukan pendataan. Bahkan, Forkopimda Kabupaten Malang, juga langsung meninjau lokasi-lokasi yang rusak.
“Selain korban meninggal, tiga desa di lokasi korban meninggal, yakni Desa Sidorenggo, Wirotaman dan Desa Tamansari, mengalami kerusakan lumayan berat. Untuk jumlahnya, masih dilakukan pendataan,” tambahnya.
Masih menurut Sofie, selain mendata sejumlah rumah yang rusak, pihaknya juga masih memonitor kerusakan lain yang terjadi di desa secara keseluruhan. Karena, ada total 13 desa di wilayah kecamatannya.
“Untuk jumlah kerusakan rumah, masih dilakukan pendataan secara menyuruh. Yang pasti, kerusakan terparah ada di tiga desa tadi (korban meninggal, red). Namun, tidak menutup kemungkinan juga terjadi di desa lain,” terangnya. (sit)
















