Kota Malang
14 Titik di Kota Malang Rawan Terdampak Cuaca Ekstrem, BPBD Imbau Masyarakat untuk Waspada

Memontum Kota Malang – 14 wilayah di Kota Malang diidentifikasi sebagai daerah rawan terdampak cuaca ekstrem. Diantaranya, kawasan Universitas Brawijaya (Ketawang Gede), Universitas Negeri Malang (Sumbersari), Oro-Oro Dowo, Penanggungan, Balai Kota Malang, Stasiun Kota Baru dan Kelurahan Kesatrian.
Selain itu, wilayah persawahan di Gadang, Bumiayu, Mulyorejo, Bakalan Krajan, Tunggul Wulung, Tasikmadu, hingga kawasan Buring dan Perumahan Sawojajar juga masuk dalam kategori rawan. Pemetaan itu, dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang sebagai respons terhadap peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda terkait potensi bencana hidrometeorologi. Hal ini, pun juga telah disampaikan kepada masyarakat untuk tetap waspada.
“Kami sudah menyampaikan informasi ini kepada perangkat wilayah agar meningkatkan kesiagaan, terutama di area-area yang rawan bencana,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang, Prayitno, Rabu (18/12/2024) tadi.
Prayitno pun juga mengimbau masyarakat, untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah dengan topografi curam dan daerah padat penduduk. Sebab, itu akan menyebabkan kondisi jalan licin hingga banjir bandang.
Baca juga :
“Sehingga kami minta warga untuk tetap berhati-hati, terutama saat terjadi hujan lebat,” ujarnya.
BMKG Juanda sebelumnya mengeluarkan peringatan resmi terkait cuaca ekstrem yang berpotensi melanda Jawa Timur, termasuk Kota Malang. Fenomena ini, dipicu oleh kombinasi beberapa faktor atmosfer, seperti gelombang Kelvin, Equatorial Rossby, Madden-Julian Oscillation (M-JO), yang menyebabkan peningkatan pertumbuhan awan hujan.
“Selain itu, aktifnya Monsun Asia dan suhu muka laut yang hangat di sekitar Jawa Timur turut menyuplai uap air yang mendukung pembentukan awan penghujan,” imbuh Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan.
BMKG juga mencatat bahwa Jawa Timur masih dipengaruhi dampak tidak langsung dari bibit siklon tropis 93S yang berada di Samudra Hindia. Kondisi ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, seperti hujan lebat, banjir, tanah longsor, angin kencang, dan pohon tumbang. (rsy/sit)











