Surabaya
Aribowo: PWI dan AJI tak Bisa Bertemu

Memontum Surabaya – Suasana gegap gempita perhelatan Hari Pers Nasional (HPN) 2019 di Jawa Timur (Jatim) nampak tak lepas dari berbagai kritikan yang ditujukan kepada pihak penyelenggara hingga oknum yang menikmati euforiannya. Kritikan tajam itu terlontar dari mulut pengamat politik Universitas Airlangga (Unair) Aribowo yang mengatakan tema pagelaran tahunan yang di adakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tidak esensial bagi para profesi insan pers itu sendiri.
Karena menurutnya yang esensial adalah bagaimana menanggapi berbagai ancaman profesi wartawan saat melakukan penugasan peliputan.
“Ya mereka kan melihat tema utama yang diusung oleh pwi tidak esensial bagi profesi wartawan. Menurut AJI yang esensial itu bagaimana ancaman wartawan ketika mereka melakukan profesi itu ada yang dibunuh ada yang ditangkap, ada yang dilaporkan uu ITE, itu esensial bukan yang gimik,” ungkapnya, di acara Menggugat HPN yang diadakan AJI Surabaya, di C20 Collabtive, Surabaya, Jumat (8/2/2019).
Selain masalah esensialisme dalam perhelatan HPN 2019, Aribowo menilai jika kedua kubu antara AJI dan PWI mempunyai pertikaian historis dan sedikit mempunyai sudut pandang berbeda yang mengakibatkan putusnya komunikasi antar kedua organisasi.
“Tak dapat dipungkiri mereka punya pertikaian secara historis, jadi mereka saling tidak komunikasi, koordinasi saling berbeda sejak orde baru sampai hari ini, kelihatannya tidak bisa bertemu,” nilai Ariwibowo.
Selain itu ia menyoroti jika sebenarnya dari dulu AJI ingin menjaga independensi media maupun para pelaku pewartanya. Akan tetapi diskusi tentang etika dalam dunia kejurnalistikan itu cukup sulit, lantaran sebagian besar pimpinan dan anggota PWI mempunyai hubungan intim dengan birokrat.
















