Kota Malang
Idul Adha Sebagai Momentum Bermuhasabah bagi Civitas UMM

Memontum Malang – Idul Adha adalah salah satu momentum yang harus disambut dengan rasa syukur atas kenikmatan dalam hidup. Sejalan dengan hal tersebut, pelataran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) penuh sesak dalam kekhusyukkan sholat Idul Adha 10 Dzulhijjah 1439 H, Rabu (22/8/2018).
Dalam pembukaan sebelum memulai sholat Idul Adha, Ketua Pelaksana Kegiatan Kurban Rahmad Pulung Sudibyo melaporkan jumlah hewan kurban yang akan disembelih. “Patut kita syukuri, saat ini kita semua dapat membagikan rasa nikmat dan syukur kita dengan kembali melakukan penyembelihan hewan,” kata Pulung.

Jamaah sholat Idul Adha memadati UMM. (humas)
Sebanyak 7 ekor sapi dan 21 ekor kambing siap untuk disembelih. Daging hewan-hewan kurban tersebut juga akan dibagikan kepada masyarakat yang berada di sekitar Kampus III UMM. “Kami telah menyiapkan 7 ekor sapi dan 21 kambing untuk disembelih. Semua hewan-hewan tersebut telah kami pastikan kesehatannya,” terang dosen Program Studi Agribisnis tersebut.
Selepas menuntaskan ibadah sholat Idul Adha, hadir di tengah jamaah sholat Idul Adha, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum. Pada tausyiah kali ini, Busyro mengajak masyarakat untuk kembali mengingat, mempelajari, dan mengamalkan akhlak terpuji Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. “Pada kesempatan yang mulia ini, mari bersama kita pahami kembali makna ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan tentang kenikmatan bersyukur,” terangnya.
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2010-2011 ini juga menyampaikan bahwa kita dapat memaknai ayat-ayat yang bermakna metaforik tersebut dalam kehidupan bersosial dan bernegara. “Saat ini kita dihadapkan pada persoalan tuna moral, banyak hal-hal yang menjadikan kita terkadang menjadi insan yang lupa diri,” jelas Busyro.
Jika dalam kisahnya Nabi Ibrahim dapat menerima ketentuan Allah SWT dengan lapang dada, maka momentum perayaan ini diharapkan tidak hanya menjadi seremonial semata. “Kisah Nabi Ibrahim adalah kisah yang harus sering-sering kita ingat dan amalkan, tentang kelapangan dalam menerima garis hidup yang telah ditentukan oleh Allah SWT,” tutur Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah tersebut.
Diakhir tausyiah, Busyo mengingatkan untuk terus mengevaluasi diri dan menjadikan momen-momen sakral seperti ini sebagai penanda untuk terus menjadi insan yang mulia dihadapan Allah SWT. (rhd/yan)
















