Kabar Desa
Jembatan Meddelan Sumenep Tak Kunjung Dibangun, Warga Berinisiatif Gotong Royong Bangun Jembatan Bambu

Memontum Sumenep – Sejak jembatan utama Desa Meddelan, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, ambruk sekitar sebulan lalu, hingga kini masih belum ada tanda-tanda perbaikan. Pemerintah daerah hanya meninjau ke lokasi melalui Dinas PUTR Sumenep, untuk dilakukan survei dan dijanjikan bakal segera ditangani.
Tokoh Pemuda Meddelan, Moh Hartono, berharap segera ada penanganan khusus karena jalur tersebut adalah akses utama warga. Sehingga, untuk kegiatan sehari-hari, tidak sampai terlalu mengganggu.
“Kami terpaksa membuat jembatan bambu di atas jembatan beton utama yang sudah ambruk. Ini inisiatif warga, lantaran saat jembatan ditutup akibat rusak atau ambruk, selalu ada pengguna jalan yang mencoba menerobos atau membuka jembatan yang sempat ditutup total itu pada malam hari,” ujarnya, Selasa (12/07/2022) tadi.
Baca juga:
- Pemkot Malang Rencanakan Bangun Skywalk di Dua Lokasi dari Dana Bank Dunia
- Objek Wisata Banyuwangi 2026 Perkuat Seni dan Budaya Masyarakat
- Cara Unik UMKM Malang Kenalkan Gamis Bordir, Gandeng Petugas Kebersihan Jadi Model Ramadan
- Kecamatan Lumbang dan Potensi Produksi Madu yang Dihasilkan
- Antisipasi Pewarna Makanan Berlebih, Wali Kota Malang Siapkan Tes Sampel di Pasar Takjil
Karena kondisi itu, lanjut Hartono, warga pun berinisiatif dengan berbondong-bondong membangun jembatan bambu dengan biaya swadaya masyarakat. Meski pun, itu sedikit rawan untuk keselamatan pengendara motor.
“Sempat ada inisiatif untuk dialihkan jalur kendaraan ke jembatan alternatif sebelah barat jembatan utama. Namun, pemerintah desa bersama warga akhirnya gotong royong menebang pohon pisang yang berjejer sepanjang sungai bagian utaranya,” kata Hartono.
Ditambahkan, hanya saja itu bukan solusi. Sebab kendaraan bermotor roda empat atau roda tiga, susah melintasi jembatan alternatif itu. Sebab, tanggul atau tebing sungai yang dijadikan jalur alternatif warga justru jalannya belum diaspal. Artinya masih tumpukan tanah hasil urukan sungai.
“Becak pun kesulitan lewat jalan alternatif itu. Apalagi sekarang, sudah sering hujan, otomatis jalan tersebut tak bisa dilewati. (dan/edo)
















