Kota Malang
Mendikbud Tarik Buku Yang Menyebut NU Radikal

“Berarti itu sebelum saya menjadi menteri. Dan selama menjadi menteri, saya belum pernah merevisi buku, kecuali penambahan untuk mata pelajaran informatika,” jelas mantan rektor UMM ini.
Menurut Muhadjir, konteks kata radikal dalam buku tersebut sebetulnya adalah sejarah tentang perjuangan kemerdekaan nasional tahun 1920-an. Saat itu berdiri organisasi-organisasi yang oleh tim penulis dicirikan memiliki watak non kooperatif atau tidak mau berkompromi dengan pemerintah kolonial Belanda.
“Nah itu lah yang kemudian dikategorikan sebagai organisasi radikal. Jadi sebetulnya kata radikal itu dalam konteks melawan penjajah kolonial. Saat disusun kata ‘radikal’ belum menjadi kata pejoratif. Tetapi sekarang ini kan radikal itu jadi sensitif. Ketika diajarkan kepada anak-anak bisa keluar konteks,” bebernya.
Muhadjir mengapresiasi reaksi banyak pihak atas kejadian ini, terutama dari kalangan pendidik. “Saya mengapresiasi guru yang kritis menyampaikan kepada saya langsung tentang itu. Kenapa? Mereka tahu persis bagaimana suasana di lapangan kan. Karena itu saya respon, saya undang mereka yang terkait,” tandasnya. (rhd/yan)
















