Kota Malang

Mengintip Varian Durian Unggulan ATP UB BonTang

Diterbitkan

-

Mengintip Varian Durian Unggulan ATP UB BonTang

Memontum Malang — Tak hanya Agro Techno Park (ATP) UB, UB juga memiliki ATP dataran rendah di Jatikerto, Ngantang seluas 18 hektare. Dimana lahan tersebut merupakan hibah lahan untuk penelitian dari Departemen Pertanahan sejak tahun 1980. Melalui Agro Techno Park (ATP) UB Jatikerto, dikenal dengan produksi pertanian dan buah-buahan, seperti pepaya, jeruk, durian, rambutan, kacang panjang, terong, cabe, tomat, sawo, cincau, blimbing, kelengkeng, dan lainnya dengan sistem pertanian organik yang sehat bebas pestisida.

Sekitar 10 tahun Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FPUB) telah mengadakan pengabdian masyarakat di 2 kecamatan, yaitu Kasembon dan Ngantang (BonTang). Kegiatan tersebut diawali dengan survey untuk menemukan jenis durian unggul lokal dan pelatihan pembibitan durian.

Menunjukkan jenis durian lokal stek yang mampu menembus nasional. (rhd)

Menunjukkan jenis durian lokal stek yang mampu menembus nasional. (rhd)

“Jumlah jenis unggul lokal cukup banyak. Bahkan setiap tahun atau musim jumlahnya terus bertambah. Sekalipun beberapa jenis unggul lokal telah ditemukan, namun jumlah pohon durian yang asal biji masih mendominasi pohon yang ada. Pohon asal biji menghasilkan mutu buah beragam dan produksi yang belum mantap/labil. Melalui penelitian FTUB, akhirnya kami coba kolaborasi dengan petani setempat. Dan akhirnya mulai menunjukkan perubahan dan hasil unggulan, baik nasional atau internasional. Hanya masih belum kami rilis ke Kementan, karena harus melibatkan pemerintah setempat,” jelas Direktur Agro Techno Park (ATP) Prof Sumeru Ashari, kepada awak media.

Meru, sapaan akrabnya, mengatakan beberapa jenis durian unggul telah ditemukan dan ditanam di Kebun bengkok Desa Waturejo seluas 2 ha. Beberapa pohon bahkan sudah mulai berbuah. Jenis yang ditanam adalah Arab, Jingga, Sepanjang Musim (SPM), Kunir, Musang King (Malaysia), dan ratusan jenis durian lokal.

“Sementara dinamai sesuai warna dan deskripsi. Durian lokal yang ga enak distek dengan tanaman jenis baru hasil penelitian FT UB. Hasilnya tunggu 3 tahun berbuah. Bahkan 1 pohon polinasi bisa 3 jenis durian dengan stek 3 tunas. Jumlah saat penanaman sebanyak 303 bibit, sementara yang hidup sebanyak 127 pohon. Tujuan koleksi jenis unggul adalah untuk menyelamatkan plasma nutfah jenis unggul lokal dan menyediakan jenis unggul untuk digunakan petani durian dalam memperbaiki mutu genetis pohon duriannya. Survey untuk menemukan jenis jenis unggul akan terus dilakukan,” papar Meru.

Advertisement

Jenis-jenis durian unggul tersebut digunakan untuk perbaikan mutu durian yang non unggul. “Kalau program ini mendapatkan sambutan dari pemerintah setempat 10 tahun lagi, kawasan durian Ngantang dan Kasembon akan menjadi pusat unggulan durian lokal Nusantara. Dan menjadi kawasan segitiga durian dengan Wonosalam, Jombang,” tambah Meru.

Sementara, salah satu petani durian setempat, Amad, warga desa Waturejo, Ngantang, mengatakan banyak varian yang dimilikinya, hasil stek dengan bibit dari UB. “Durian Kunir rasanya beda. Warnanya lebih kuning, rasanya bervariasi campur dalam 1 buah. Hampir seukuran dan mirip rasanya dari Montong. Selain itu, saya juga punya banyak jenis, seperti Musang King dari Malaysia, vodka yang bisa bikin orang mabuk dan langsung tidur, pelangi dari Papua, Arab, dan lainnya. Untuk harga paling mahal Rp 100-500 ribu. Rata-rata Rp 50.000 ke bawah,” jelas pria kelahiran 1954, yang menjadi petani sejak 1970.

Selain perbaikan mutu genetis durian BonTang, ATP UB Jatikerto juga memberikan pelatihan penggemuan hewan ternak seperti sapi, kambing, love bird, ayam potong, dan lainnya. Sementara pelatihan pembibitan lainnya, yaitu jambu air, belimbing, pisang, dan lainnya. (rhd/nay)

Advertisement
Advertisement
Lewat ke baris perkakas