Kota Malang
Sutiaji: Saya Pelayan Warga Kota Malang

Memontum Kota Malang — Kira Kira 1.5 bulan lagi warga Kota Malang segera memiliki pemimpin baru. Hasil Pilkada Kota Malang 27 Juni mendatang. Masa bakti Walikota dan Wakil Walikota Malang terpilih mulai tahun 2018-2023. Lalu siapakah yang berhak mimpin Kota Malang untuk lima tahun kedepan ?
Sesuai jadwal dari KPU Kota Malang pada 23 Juni 2018 merupakan batas akhir kampanye bagi tiga pasang calon (Paslon) Walikota Malang. Mulai 24-26 Juni merupakan hari tenang dari hingar bingar kampanye.
Dari tiga cawali Kota Malang yang bersaing semuanya orang baik. Visi-misinya bagus semua. Tapi diantara tiga orang itu pasti ada yang terbaik. Dekat dengan rakyat dan selalu berusaha melayani warganya dalam kondisi susah maupun senang.
Seiring dengan segera berakhirnya masa kampanye. Berarti Sutiaji cawali Kota Malang segera kembali Balaikota Malang melanjutkan tugas kenegaraan yang tersisa sebagai Plt Walikota Malang selama dua bulan.
“Dalam diri saya sudah berjanji saat melaksanakan tugas walikota. Saya tidak akan menggunakan jasa patwal. Saya tidak perlu dilayani yang super istimewa. Saya ingin dekat dengan rakyat saya. Saya ingin menjadi pelayan untuk warga Kota Malang,” tegas Sutiaji.
Kalau pun terpaksa menggunakan Patwal. Sutiaji mohon diingatkan agar tidak menyalakan sirine. Sutiaji mimiliki pengalaman pahit saat melaksanakan tugas Wakil Walikota Malang dengan pengawalan kendaraan Patwal.
Sutiaji ingin mengetahui titik-titik mana saja yang rawan macet, agar Pemkot bisa segera memperbaikinya. Demikian diungkapkan Sutiaji, saat silaturahim dengan warga Gang 18 Mayjen Panjaitan, Kelurahan Klojen, Kota Malang.
“PR saya di Jalan Mayjend Panjaitan adalah memperbaiki timer traffic light. Timer dipertigaan Mayjend Panjaitan dengan Jl. Soekarno Hatta. Masa lampu merahnya bisa sampai 90 detik sedangkan lampu hijaunya hanya 15 detik,” jelasnya.
Padahal ada kemacetan panjang di jalur lalu lintas dari Mayjend Panjaitan menuju Dinoyo. Harusnya lampu hijaunya bisa lebih lama. Sutiaji tidak ingin suara ribut dari sirine mobil Patwal justru menjadi sumber kecelakaan bagi warga Kota Malang.
“Pernah satu kali saya dikawal mobil Patwal lalu terjadi kecelakaan karena seorang pengendara disekitar mobil saya kaget mendengar sirine dari mobil Patwal yang mengawal saya. Saya menangis, saya merasa sedih mobil Patwal yang mengawal saya malah menjadi penyebab kecelakaan,” tutur Sutiaji.
Selain kemacetan, Sutiaji juga menyoroti permukiman ditepi sungai yang merupakan permukiman tepi sungai terpanjang di Jawa Timur. Menurutnya, pemerintah kota perlu memikirkan kembali penataan dan menyusun produk hukum demi meningkatkan keselamatan dan derajat hidup warga Kota Malang.
“Seluruh produk kebijakan harus dirembuk/dimusyawarahkan terlebih dahulu antara pemerintah dengan warga. Masyarakat wajib tahu alur pengelolaan dana APBD yang berasal dari dana pajak yang warga bayarkan. Dana ini digelontorkan pemerintah pusat untuk kesejahteraan seluruh warga,” tegas Sutiaji.
Selain menyinggung masalah kemacetan, hunian ditepi sungai. Sutiaji juga menyinggung soal keberadaan kerajinan keramik di Kelurahan Dinoyo saat ini sedang lesu. Menurut Sutiaji, daerah Betek dan Dinoyo yang terkenal akan kerajinan gerabah dan keramik harus dihidupkan lagi. Pelaku UMKM di sini perlu dibantu pendampingan dan modal sehingga Malang bisa kembali terkenal sebagai kota penghasil kerajinan keramik berkualitas.
“Kota Malang itu bukan milik walikota atau wakil walikota. Kota Malang itu milik semua warganya, milik semua masyarakat di 57 kelurahan. Baik buruknya kota ini adalah hasil dari kita. Berikan yang terbaik, karena semua yang kita lakukan di dunia kelak akan dimintai pertanggung jawabannya,” pungkasnya. (man/yan)



















