SEKITAR KITA
Tekan Angka Kematian, Forkopimda Probolinggo Kota Minta Keluarga Pasien Covid-19 Lebih Terbuka

Memontum Probolinggo – Penambahan angka kematian dari kasus terkonfirmasi Covid-19, terus meningkat dalam sepekan terakhir. Fakta ini, menjadi perhatian Forkopimda Probolinggo Kota.
Seperti sebagaimana disampaikan Kapolres Probolinggo Kota, AKBP Raden Muhammad Jauhari. Dirinya menjelaskan, tren peningkatan kasus kematian pasien Covid-19, perlu menjadi bahan evaluasi Pemerintah kota untuk menentukan upaya penanganan pandemi Covid-19. Termasuk, dalam penguatan pemantauan pasien yang menjalani isolasi mandiri (Isoman).
Baca juga
- Terdakwa Dugaan Penggelapan Emas Rp 3,3 Miliar Dituntut 3 Tahun 10 Bulan
- TMMD Ke-127 Kediri, Dansatgas Beri Khutbah Jamaah Salat Jumat di Desa Gadungan
- Sidang Terdakwa Dugaan Penggelapan Emas Rp 3,3 Miliar, Uang Hasil Kejahatan untuk Gaya Hidup dan Dugem
Berdasarkan data di lapangan, jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit, terus meningkat. Sedangkan pasien yang menjalani Isoman di rumah ataupun di tempat isolasi mandiri, capaian persentasenya lebih besar.
”Kami harap, kerja sama dari pasien ataupun anggota keluarga, untuk menyampaikan kondisi yang sebenarnya terhadap kondisi pasien. Sehingga, bisa kami pantau dan mendapatkan akses bantuan. Termasuk, dalam mensuplai obat-obatan,” ujarnya.
Raden Muhammad Jauhari juga menuturkan, dari sisi kasus kematian, jumlah daerah terkategori Level 4 atau level cukup tinggi dari beberapa daerah. Salah satu kategori dari level tersebut, adalah adanya lebih dari lima kasus angka kematian per harinya.
Sementara itu, Dandim 0820/Probolinggo, Letkol Inf Imam Wibowo, menambahkan bahwa masyarakat diimbau untuk mau menjalani isolasi mandiri di lokasi isolasi mandiri terpusat. Jangan sampai, ketika gejala sudah semakin berat dan cenderung kritis, mereka baru mengakses fasilitas kesehatan. Kondisi ini, lebih sulit untuk ditangani sehingga risiko kematian menjadi tinggi.
”Kewaspadaan ini juga perlu ditingkatkan dengan adanya mutasi virus dari varian Delta. Dari 3.647 sampel yang diperiksa, varian Delta sudah mendominasi sebanyak 86 persen. Sampel tersebut berasal dari banyak provinsi. Sehingga, persebaran varian dengan tingkat penularan yang tinggi ini sudah hampir merata di Indonesia,” tuturnya. (geo/sit)
















