Mojokerto
Upaya Cegah Disintegrasi Bangsa, FKUB Gelar Dialog Tokoh Lintas Agama

Seperti kita ketahui bersama, pasca-reformasi berbagai ancaman disintegrasi bangsa sempat muncul ke permukaan seperti separatisme GAM dan OPM, konflik komunal di Ambon, huru hara anti cina, kekerasan sosial akibat main hakim sendiri dan aksi kekerasan lainnya akibat pengaruh radikalisme dan terorisme.
Disinggung pula oleh Kasdim tentang perang proxy atau proxy war yaitu konfrontasi antar dua negara atau lebih yang tidak saling berhadapan dan menggunakan pihak ketiga dalam mencapai tujuannya. Proxy war ini memanfaatkan segala aspek berbangsa dan bernegara yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan dan keamanan.
“Ketidakstabilan dalam negeri akibat demonstrasi buruh yang berkepanjangan dan menimbulkan konflik sosial, tawuran pelajar dan demo mahasiswa yang anarkhis, tawuran antar kampung, konflik komunal, peredaran Narkoba yang sangat luar biasa dan tidak terbendung, sebagai bagian dari proxy war yang dilancarkan lawan untuk menghancurkan Indonesia dari segala aspek sosial budaya dan Hankam,” bebernya.
Kasdim mengingatkan, peran seluruh warga negara sangat diperlukan untuk mengatasi kondisi tersebut, kita semua harus bahu membahu membebaskan Indonesia dari sasaran perang proxy. Untuk itu sangat penting dilakukan revitalisasi wawasan kebangsaan dengan memposisikan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta aplikasi nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Maka dari itu, masih tutur Kasdim, agar semangat persatuan tetap dijunjung tinggi di tengah multikultural yang ada, maka perlu dilakukan upaya dengan mengingat kembali perjuangan para pahlawan bangsa dalam merebut kemerdekaan dan mewarisi nilai-nilai perjuangan tersebut untuk mengisi kemerdekaan, seluruj warga negara harus kembali ke budaya bangsa dengan mempedomani empat pilar kebangsaan yakni Pacasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka tunggal ika. “Suatu keharusan yang merupakan tanggung jawab moral dalam kehidupan bernegara di tengah multikultural atau keberagamaan yang ada ini, semangat persatuan harus terpelihara, terjaga dan lestari demi keutuhan NKRI,” pungkasnya.(den/gan/yan)
















