Surabaya

Risma Luncurkan Fasilitas Pelayanan Perizinan Produk Intelektual UMKM

Diterbitkan

-

Risma Luncurkan Fasilitas Pelayanan Perizinan Produk Intelektual UMKM

“Sebetulnya sudah lama (perizinan gratis), awal-awal aku jadi wali kota. Mungkin pelaku UMKM tidak tahu, males. Meskipun aku beberapa kali menyampaikan, jadi tidak boleh lagi ngomong nggak apa-apa karena produk usaha UMKM bisa diambil orang lain. Memang harus diurus,” tegasnya.

Risma menambahkan, kalau produk dan merek usaha dipegang oleh orang lain, berarti pelaku usaha tersebut belum siap memegang merek itu. “Kemudian misalkan dia sudah ekspor dan harga bisa diganti dengan orang ini (orang lain),” tambahnya.

Pejabat asal Kediri ini juga mengingatkan masyarakat yang akan menjadi pelaku usaha supaya menyiapkan (perizinan). Apabila produk UMKM sudah ekspor akan bahaya sekali. Seperti desain, dan lainnya bisa diklaim sebagai produk orang lain.

Tri Rismaharini juga menjelaskan, untuk merek paten desain cipta itu yang bisa bikin sukses. “Karena kalau sudah diklaim itu, kita susah mau gambarnya kayak gimana lagi. Tapi kalau merek ya ganti-ganti dikit lah, kita punya juga. Akhirnya semua sekarang saya pakai nama Surabaya,” imbuhnya.

Advertisement

Sementara itu, Ermien Setyawati pemilik UMKM Ermien Setyawati Mesem mengaku sempat diteror sebelum memiliki izin. Hal ini dipicu karena produk yang dijual sama dengan orang lain, yakni membuat tas dengan bahan kertas semen.

“Waktu di pameran itu saya diteror lewat telefon. Dia bilang dari Dekranasda Sidoarjo. Saya dituduh mengklaim produk orang lain. Wong saya produksi sendiri, pokoknya semua sendiri, saya juga ngajar cara pembuatan tas” cerita Ermien.

Namun teror itu berakhir di tanggal 30 Mei 2018, hal itu dikatakan berkat bantuan dari gurunya yang membantu perizinan kekayaan intelektual produk UMKM.

Usaha yang dimulai sejak tahun 2011 itu kini penjualannya sudah sampai Palangkaraya, dan dijual di sentra-sentra UKM dan mall-mall yang ada di Surabaya. Produk yang dijual berupa tas, dompet, dan kini tengah menyiapkan produk payung berbahan kertas semen, dan omset yang didapat pun tak tanggung-tanggung tiap bulannya.

Advertisement

“Satu bulan bisa mencapai omset 10 juta, yang penting bisa untuk keperluan keluarga dan beli bahan.

Satu hari itu hampir bikin sampai 30 kadang-kadang lebih. Pegawai saya satu tok, tukang jahit di rumahnya sendiri. Kalau ngelem tas saya lakulan sendiri di rumah. Tas harganya 200 ribu, kalau dompet 100 ribu,” tutupnya. (est/ano/yan)

Laman: 1 2

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker

Refresh Page
Lewat ke baris perkakas